TUGAS 2
INDIVIDU
BAB 7
Mewaspadai Intervensi Dan Infiltrasi Lewat Media Sosial
BERANDA
EDITORIAL
Mewaspadai intervensi dan infiltrasi
lewat media sosial
Oleh : Redaksi Beritagar @beritagar
20:33 WIB - Kamis, 02 November 2017
Ilustrasi: Waspadai para penyusup
Ilustrasi: Waspadai para penyusup © Salni Setiadi /Beritagar.id
Amerika Serikat kembali bersitegang
dengan Rusia. Ketegangan itu semakin kentara ketika Amerika Serikat memutuskan
untuk memberikan sanksi kepada Rusia.
Menanggapi sanksi itu, Presiden Vladimir
Putin pada akhir Juli lalu memerintahkan 755 staf diplomatik AS untuk ditarik
dari Rusia. Merespons hal itu, AS memerintahkan Rusia untuk menutup konsulatnya
di 3 kota: San Francisco, Washington DC, dan New York. Rusia menyebut penutupan
ketiga konsulatnya itu sebagai "tindakan bermusuhan".
Salah satu penyebab pemberian sanksi
kepada Rusia itu adalah dugaan campur tangan Rusia dalam Pemilihan Presiden AS
2016. Di dalam negeri AS, penyelidikan atas kasus campur tangan Rusia itu masih
terus berlangsung.
Dalam penyidikan itu, tiga orang telah
dijadikan tersangka. Yaitu, Paul Manafort, Rick Gates, dan George Papadopoulos.
Manarof adalah mantan manajer kampanye Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Gates adalah wakil Manarof. Sedangkan Papadopoulos, yang telah mengaku
bersalah, adalah mantan penasihat bidang luar negeri tim kampanye Trump.
Manafort dan Gates didakwa melakukan 12
kasus kriminal. Salah satunya adalah konspirasi melawan AS. Itulah dakwaan yang
paling berat bagi keduanya.
Campur tangan sebuah negara di dalam
pemilihan presiden negara lain adalah tindakan yang membahayakan kemerdekaan
negara lain. Penyidikan atas campur tangan Rusia dalam Pilpres AS 2016 itu
memperlihatkan kepada kita bahwa cara-cara intervensi dan infiltrasi negara
lain terhadap sebuah negara berdaulat jauh lebih halus -dan bahkan mungkin
tidak terasa- ketimbang cara-cara lama.
Pilpres AS 2016 memperlihatkan bahwa
media sosial berpotensi memberikan jalan bagi intervensi dan infiltrasi
tersebut. Dalam kaitan itu, Senat AS menggelar sejumlah pertemuan dengan
perwakilan Facebook, Twitter, dan Google.
Sejauh ini terungkap bahwa Twitter
menemukan 2.752 akun yang terkait dengan agensi yang sama asal Rusia. Selain
itu, Twitter juga menemukan bahwa ada sekitar 1,4 juta tweet otomatis mengenai
pemilu AS.
Google juga mengaku telah dipakai untuk
menyebarkan berbagai unggahan yang berasal dari Rusia. Lebih dari 1.000 video,
menurut Google, telah diunggah ke Youtube oleh mereka yang disebut sebagai kaki
tangan rusia.
Sementara Facebook menyebutkan ada 470
akun yang dikoordinasikan oleh organisasi yang disebut sebagai Internet
Research Agency (IRA). Organisasi yang berpusat di St. Petersburg dituduh
sebagai kaki tangan Rusia di AS. Organisasi itu juga dikenal sebagai kelompok
yang bisa menggiring suatu isu menjadi kontroversi dan menggiring polarisasi di
tengah masyarakat.
Sepanjang Juni 2015 sampai Agustus 2017
IRA telah mengunggah 80 ribu konten di platform Facebook. Menurut Facebook,
dari Juni 2015 sampai Mei 2017, kelompok penyesat informasi yang terkait dengan
Rusia telah menghabiskan USD100 ribu untuk membayar iklan. Masih ada USD50 ribu
lain yang dibelanjakan untuk iklan serupa dari kelompok yang berbeda.
Dalam periode sebelum Pilpres, IRA
diperkirakan telah menghabiskan USD46 ribu untuk pemasangan iklan di Facebook.
Itu memang berjumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan pengeluaran
Trump dan Hillary untuk pemasangan iklan di Facebook, yang mencapai USD81 juta.
Meski begitu, iklan yang dipasang di
Facebook itu dilihat oleh 11,4 juta. Jauh lebih besar lagi dari itu, konten
yang diunggah secara biasa oleh IRA berhasil menjangkau 126 juta warga AS. Itu
bukanlah jumlah yang kecil, dan belum termasuk 20 juta pengguna Instagram yang
juga ikut terjangkau.
Padahal konten-konten itu dirancang
untuk membuat perpecahan di tengah masyarakat -termasuk dalam bentuk hoax dan
berita palsu. Isu-isunya sengaja dipilih sedemikian rupa agar gesekan di tengah
masyarakat lekas tersulut, seperti isu tentang kepemilikan senjata, aktivisme
politik warga kulit hitam, imigran gelap, dan sejenisnya. Di Facebook,
konten-konten itu disebar lewat akun, page dan grup.
Rabu (1/11) lalu Senat AS merilis
sejumlah iklan yang pernah dipakai oleh kelompok Rusia di Facebook. Iklan itu,
digambarkan The Washington Post, sebagai memberikan gambaran sepenuhnya tentang
bagaimana aktor asing berusaha mempromosikan Donald Trump dari Partai Republik,
yang merendahkan Demokrat Hillary Clinton dan memecah belah warga Amerika lewat
sejumlah isu sosial paling sensitif di negara tersebut.
Sangat terlihat bahwa iklan-iklan itu
mengobarkan kemarahan dan kecemasan, dan menarget pirsawannya dengan sangat
presisi.
Dalam beberapa segi, pengalaman Pilpres
AS 2016 itu mengingatkan kita kepada situasi Pilkada DKI 2017 lalu. Media sosial
telah menjadi salah satu jalan yang bisa dipakai untuk menyulut pertentangan
-yang menjurus kepada gesekan- sosial dalam kontestasi politik.
Namun yang lebih penting, pengalaman
Pilpres AS 2016 itu mengingatkan bahwa kita harus selalu waspada terhadap
benih-benih upaya mempertentangkan satu kelompok masyarakat dengan kelompok
masyarakat lain dalam suatu kontestasi politik dalam negeri.
Bukan tidak mungkin cara yang dipakai di
pemilu AS tersebut akan direplikasi pihak tertentu dalam pemilihan presiden
Indonesia pada 2019 mendatang. Efek paling serius adalah pertentangan -apalagi
konflik- di antara para pendukung kelompok politik bisa memberikan jalan bagi
pihak luar untuk menungganginya demi kepentingannya sendiri.
Pertentangan yang tajam, yang menjerumuskan
kita kepada perpecahan, bisa membukakan pintu secara halus kepada campur tangan
dan penyusupan pihak-pihak di luar kepentingan kita sebagai sebuah bangsa dan
negara yang berdaulat.
Sekali lagi, perlu upaya yang serius
untuk memperkuat ketahanan informasi dalam masyarakat kita. Literasi media
adalah keharusan. Penyelenggara pemilu di sini, juga mesti bisa lebih
antisipatif membuat peraturan terkait kampanye di media yang rentan dengan
infiltrasi penyesatan informasi.
Pada saat yang sama negara juga bertanggung
jawab untuk memastikan tersedianya informasi yang akurat dan valid, yang mudah
diakses oleh warga negara untuk memverifikasi informasi yang beredar di tengah
masyarakat.
Sumber :
https://beritagar.id/artikel/editorial/mewaspadai-intervensi-dan-infltrasi-lewat-media-sosial



0 komentar:
Posting Komentar